Perumusan dan Rasionalisasi BOPTN PTKIN

Perumusan dan Rasionalisasi BOPTN PTKIN

BOPTN merupakan bantuan biaya dari Pemerintah yang diberikan kepada perguruan tinggi negeri untuk membiayai kekurangan biaya operasional sebagai akibat adanya kenaikan sumbangan pendidikan di perguruan tinggi negeri.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Isom Yusqi dalam kegiatan Penyusunan Usulan BOPTN pada PTKIN menyampaikan bahwa dalam menyusun BOPTN pada PTKIN harus sama dengan PTN, jadi antara PTKIN dan PTN dalam hal BOPTN tidak dibeda-bedakan, tegasnya.

“Sedangkan dalam merumuskan formula perhitungan BOPTN perlu mengkaji kembali indeks yang dipakai sebagai dasar perhitungan. Misal, indeks K1 yaitu, indeks jenis perguruan tinggi, dasar peniliannya itu seperti apa? Begitu juga indeks K2 tentang indeks jenis program studi, yang menilai dan mengelompokkan program studi juga perlu dipertanyakan? Karena selama ini prodi-prodi agama masuk pada jenis “other” yang indeksnya rendah yaitu 1,” kata Guru Besar IAIN Ternate ini.

“Selama ini, BOPTN pada PTKIN masih jauh dari angka BOPTN ideal karena keterbatasan anggaran. PTKIN harus selalu proaktif mengikuti pembahasan masalah BOPTN dengan Kemenristekdikti dan PTN, jangan hanya mempertanyakan saja,” pungkas Isom.

Dalam kesempatan ini, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam menjelaskan bahwa “perlu menetapkan kembali konstanta yang dipakai dalam perhitungan BOPTN. Penghitungan konstanta BOPTN dapat diperoleh dengan menghitung seluruh UKT yang masuk pada PTKIN kemudian diambil rata-rata untuk dijadikan konstanta dalam rumus perhitungan BOPTN. Mengingat disparitas UKT PTKIN yang tinggi dan lebih memudahkan rasionalisasi konstanta BOPTN,” jelas Nizar.

Nizar juga menekankan bahwa, “indeks K1 dan K2 yang dipakai dalam perhitungan BOPTN harus diperbaharui, termasuk mengklasifikasi indeks program studi yang mayoritas studi Islam,” tegasnya.

“Hambatan dalam perumusan dan perhitungan BOPTN pada saat ini adalah belum terumuskannya indeks K2 secara baik, sehingga simulasi perhitungan masih menggunakan standar indeks tahun sebelumnya,” ungkap Syafriansyah Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan.

Kegiatan yang berlangsung pada 16-17 Mei 2017 ini dihadiri beberapa Warek II PTKIN, Ketua Forum Warek II, Bagian Perencanaan, Bagian Data dan Sistem Informasi Setditjen Pendis. (SDJ)

Sumber : http://diktis.kemenag.go.id/NEW/index.php?berita=detil&jenis=news&jd=822