Collaborative Learning dalam Penggunaan Penekanan Kata (Word Stress) Pada Mata Kuliah Pronunciation II

Collaborative Learning dalam Penggunaan Penekanan Kata (Word Stress) Pada Mata Kuliah Pronunciation II

Saya mengajar di Jurusan Tadris Bahasa Inggris (TBI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) IAIN SMH Banten. Sebagai unsur terkecil pada ujaran, ‘kata’ penting diucapkan dan dilafalkan untuk menentukan berhasil atau tidaknya pesan tersampaikan dengan baik dalam bahasa Inggris. Menurut saya, dalam sistem bunyi bahasa Inggris terdapat banyak cara pengucapan pada masing-masing individu yang disebabkan oleh berbagai macam faktor, seperti daerah asal, pengaruh-pengaruh awal, dan lingkungan sosial. Oleh karena itu, perlu ada pelafalan meski tidak baku yang memudahkan untuk diterima oleh pengguna bahasa Inggris. Dalam mata kuliah Pronunciation, saya masih menemukan mahasiswa yang kesulitan dalam mengucapkan atau menuturkan ujaran bahasa Inggris secara tepat dan benar.

Salah seorang mahasiswa yang saya wawancarai berkata, “Saya masih belum percaya diri mengucapkan kata dalam bahasa Inggris karena pengaruh bahasa sehari-hari yang digunakan. Saya terbiasa berbicara bahasa Sunda dalam keseharian sehingga jika saya berbicara kata berbahasa Inggris, banyak teman-teman tertawa mendengarkannya dan juga tidak paham.” Dari pendapat mahasiswa tersebut, saya ingin membuat metode pembelajaran yang menarik dan mudah dikuasai oleh mahasiswa di mata kuliah pronounciation. Sebagai dosen pengampu, saya pun memilih collaborative learning sebagai strategi perkuliahan pronounciation II pada bulan Maret 2016, tepatnya semester genap tahun ajaran 2015/2016. Saya memilih metode ini setelah terinspirasi mengikuti pelatihan modul 1 USAID PRIORITAS.

Dalam modul 1 dikatakan pembelajaran dengan pendekatan aktif dan interaktif akan memungkinkan siswa mampu menemukan sumber belajar sendiri. Serupa dengan pendekatan ini, saya memilih metode collaborative learning atau belajar secara kolaboratif agar siswa satu sama lain dalam kelompok kecil dapat belajar bersama-sama tentang pronunciation. Belajar secara kolaboratif dalam sebuah kelompok memungkinkan mahasiswa belajar secara mandiri dan atau berbagi pengalaman dengan sesama teman mahasiswa sehingga dapat tercipta situasi belajar yang aktif dan menyenangkan. Dengan terciptanya situasi yang menyenangkan ini diharapkan suasana yang menegangkan dan kaku yang selama ini mahasiswa rasakan dapat diminimalisir dan mahasiswa dapat memahami konsep penekanan kata (word stress) secara lebih mudah. Mahasiswa juga dapat saling mengoreksi pelafalannya masingmasing apabila ada kesalahan.

Adapun langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut:

  1. Dosen memapaparkan serangkaian teori berikut contoh-contoh pelafalan yang berkaitan dengan penekanan kata.
  2. Teori dan latihan terbimbing dilaksanakan 3-4 kali tatap muka.
  3. Setelah dirasa cukup mahasiswa mendapatkan pemahaman awal, kemudian dosen membagi mahasiswa ke dalam kelompok.
  4. Masing-masing kelompok diminta untuk mencari sebuah teks bacaan Bahasa Inggris dengan topik dan judul bebas. Sumber bacaan dianjurkan diambil dari authentic material.
  5. Di dalam kelompok, mahasiswa menganalisis teks bacaan tersebut untuk diidentifikasi setiap penekanan katanya. Hanya katakata yang termasuk ke dalam Verb, Noun, Adjective, dan Adverb saja yang dianalisis penekanan katanya.
  6. Setiap kata-kata yang sudah dianalisis diberi tanda ( ‘ ) sebagai penanda penekanan kata.
  7. Hasil kerja kelompok di pajang di dinding kelas dan mahasiswa melakukan kunjung kerja.
  8. Mahasiswa mengamati hasil karya kelompok lain untuk diberi komentar pada saat diskusi kelas.
  9. Pada tahap akhir masing-masing mahasiswa di setiap kelompok secara bergiliran melafalkan teks bacaan dengan penekanan kata yang sudah dikoreksi secara tepat. Mahasiswa yang lain memperhatikan dan merespon.
  10. Sumber belajar adalah authentic material yang berasal dari artikel internet, majalah, koran, serta buku-buku cerita. Mahasiswa juga diwajibkan membawa kamus bahasa Inggris Oxford sebagai penunjang.

Setelah kegiatan berakhir, respon mahasiswa terhadap proses perkuliahan pada umumnya sangat positif. Asep, mahasiswa yang semula mengeluhkan pelafalan bahasa Inggris kini mengaku lebih baik dalam ujaran karena pesan yang disampaikan Asep bisa diterima di teman lainnya. “Ketika saya melakukan latihan pelafalan dalam bahasa Inggris, teman-teman saya sudah bisa memahami apa yang saya ucapkan dengan baik,” kesan Asep. Asep berpendapat metode pembelajaran collaborative memudahkan kita untuk melafalkan karena bisa belajar satu sama lain. Mahasiswa juga menjadi lebih paham dan mengerti bagaimana sebuah kata dalam bahasa Inggris seharusnya dilafalkan. Kepercayaan diri mahasiswa untuk berbicara di depan kelas menjadi semakin meningkat.

Metode collaborative juga membantu saya sebagai dosen untuk memonitoring mahasiswa secara berkelompok. Mahasiswa pun aktif satu sama lain untuk memberikan gagasan karena mereka bisa saling mengoreksi.

(Sumber : Praktik yang Baik: Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) – USAID Prioritas, ditulis oleh Ila Amalia, S.Pd, M.Pd. Ditemukenali di : http://www.prioritaspendidikan.org/file/Buku_PB_LPTK.pdf)