
Transformasi Jurnal di FTK Menuju Bereputasi (Scopus)
Dalam dunia akademik, publikasi jurnal ilmiah bukan sekadar program untuk menggugurkan kewajiban, melainkan perwujudan dari aktivitas intelektual pada sebuah lembaga pendidikan. Namun, realita di lapangan seringkali menunjukkan bahwa semangat “melahirkan” jurnal baru tidak beriringan dengan konsistensi dalam mengelolanya. Mengelola jurnal ibarat membesarkan seorang anak; ia membutuhkan perhatian, asuhan, dan visi jangka panjang, bukan sekadar sokongan materiil yang bersifat sementara.
Saat ini, Fakultas Tarbiyah tengah menghadapi tantangan besar dalam memetakan masa depan publikasi ilmiahnya. Dengan koleksi 11 jurnal yang dimiliki, posisi saat ini menunjukkan keragaman capaian: tujuh jurnal telah berhasil menembus akreditasi SINTA (peringkat 2 hingga 5), sementara empat lainnya masih berstatus belum terakreditasi. Data ini membawa kita untuk bertanya: bagaimana kita bisa beranjak dari sekadar “mengelola sejumlah jurnal” menuju pencapaian standar internasional seperti Scopus?
Filosofi pengelolaan jurnal harus diubah secara fundamental. Selama ini, muncul kecenderungan di mana setiap program studi berlomba-lomba membuat jurnal—terkadang lebih dari satu—dengan prinsip “banyak anak banyak rezeki.” Sayangnya, semangat ini seringkali hanya berhenti pada tahap kelahiran. Banyak jurnal yang lahir hanya demi penyerapan anggaran, namun kemudian ditelantarkan tanpa manajemen yang mumpuni. Dalam perspektif moral dan religius, menelantarkan jurnal yang telah dibentuk adalah sebuah bentuk kezaliman. Sebagaimana peringatan untuk tidak meninggalkan keturunan yang lemah (dhaif)–Annisa ayat 9 , kita pun memiliki tanggung jawab profesional untuk tidak meninggalkan jurnal dalam kondisi yang tidak terurus atau berkualitas rendah.
Anggaran memang elemen penting, tetapi ia bukanlah variabel tunggal penentu kesuksesan. Sebuah jurnal yang bermutu memerlukan “pendidikan” berupa tata kelola standar internasional, kurasi tulisan yang ketat, dan jaringan kolaborasi yang luas. Kehadiran para pakar, seperti tim dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang telah sukses mengawal belasan jurnal bereputasi dunia, harus dijadikan momentum akselerasi. Kita memerlukan “bidan” profesional untuk membantu jurnal-jurnal kita naik kelas, namun komitmen utama tetap berada di tangan para pengelolanya.
Visi besar kita adalah menjadikan jurnal sebagai sarana syiar akademik yang kompetitif. Jika kita mampu menghantarkan jurnal menuju peringkat SINTA 1 atau terindeks Scopus, dampaknya akan dirasakan langsung oleh para dosen dan peneliti. Kita tidak lagi hanya menjadi penonton dalam percaturan ilmiah global, tetapi menjadi tuan rumah yang mampu memfasilitasi pertukaran ide dengan akademisi dari berbagai belahan dunia.
Sebagai penutup, transformasi ini menuntut kerja keras yang nyata. Workshop pengelolaan jurnal tidak boleh hanya menjadi seremoni rutin tanpa hasil konkret. Para “pejuang jurnal” di fakultas harus bergerak melampaui rutinitas administratif. Dengan dukungan anggaran yang sudah dialokasikan dan pendampingan teknis yang intensif, sudah saatnya jurnal-jurnal di Fakultas Tarbiyah berhenti menjadi “anak yang terabaikan” dan mulai tumbuh menjadi kekuatan akademik yang diakui dunia. Kesungguhan hari ini adalah kunci agar kita tidak merasa malu di hadapan institusi lain, melainkan bangga atas karya yang berdaya saing.










