
Menjadi Guru, Menunaikan Tugas Ilahiah
Pengukuhan 139 guru profesional di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten bukan sekadar seremoni akademik biasa. Di balik wajah-wajah ceria para lulusan Batch 2 Tahun 2024, tersimpan kisah perjuangan yang melampaui batas ruang kelas. Peristiwa ini merupakan pengingat bagi kita semua bahwa profesi guru bukan sekadar jabatan administratif, melainkan sebuah panggilan jiwa yang berakar pada nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
Perjalanan menjadi guru profesional hari ini menuntut ketangguhan yang luar biasa. Selama empat bulan masa pendidikan, para guru ini tidak hanya bergelut dengan teori pedagogi, penyusunan RPP, atau teknis pembuatan video pembelajaran. Banyak di antara mereka yang harus berjuang di garis depan geografis Indonesia—daerah 3T (Terdepan, Terluar, Terpencil). Kita mendengar kisah tentang guru yang harus bertaruh nyawa menyeberangi jembatan bambu yang rapuh atau mendaki perbukitan demi mencari sinyal internet untuk menyelesaikan tugasnya. Perjuangan ini menegaskan bahwa menjadi pendidik di negeri ini adalah bentuk pengabdian yang nyata, sebuah pengorbanan yang layak mendapatkan apresiasi tertinggi dari negara dan masyarakat.
Secara filosofis, kemuliaan guru telah lama diabadikan dalam literatur dunia. Penyair besar Mesir, Ahmad Syauqi, menuliskan bait-bait indah yang menggambarkan betapa tingginya derajat seorang pendidik:
قُم لِلمُعَلِّمِ وَفِّهِ التَبجيلا … كادَ المُعَلِّمُ أَن يَكونَ رَسولا أَعَلِمتَ أَشرَفَ أَو أَجَلَّ مِنَ الَّذي … يَبني وَيُنشِئُ أَنفُساً وَعُقولا
“Bangkitlah, berdiri dan berikan penghormatan setinggi-tingginya kepada guru; karena posisi seorang guru hampir menyerupai seorang Rasul. Tahukah engkau, adakah sosok yang lebih mulia daripada mereka yang mampu membangun dan menghidupkan jiwa serta akal manusia?”
Kutipan ini selaras dengan prinsip bahwa pengajar pertama dalam sejarah keberadaan manusia adalah Allah SWT, sebagaimana tersirat dalam ayat “Wa ‘allama Aadamal asmaa-a kullaha”. Maka, ketika seorang guru melangkah ke dalam kelas, ia sesungguhnya sedang menjalankan fungsi-fungsi ilahiah. Tugasnya bukan sekadar mentransfer kecerdasan intelektual, melainkan juga merawat potensi spiritual dan emosional anak didik. Tidak ada makhluk yang lebih mulia di muka bumi ini selain mereka yang mampu menghidupkan kembali pelita dalam akal dan jiwa manusia yang haus akan ilmu.
Namun, di balik kemuliaan tersebut, terbentang tanggung jawab yang besar. Predikat “Profesional” yang kini tersemat membawa konsekuensi moral yang berat. Tunjangan profesi yang akan diterima oleh para guru adalah amanah yang berasal dari pajak rakyat. Oleh karena itu, gelar ini harus dijawab dengan integritas dan kinerja yang berlipat ganda. Guru profesional harus membuktikan bahwa mereka bukan hanya ahli dalam materi, tetapi juga menjadi teladan dalam karakter.
Pada akhirnya, yudisium ini adalah sebuah awal. Para lulusan PPG UIN Banten kini memanggul harapan bangsa di pundak mereka. Dengan bekal ilmu dan pengalaman selama masa pendidikan, mereka diharapkan mampu menjadi energi baru yang mencerahkan kegelapan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Selamat mengabdi, para guru profesional. Tugas mulia menanti Anda untuk terus menghidupkan jiwa dan akal generasi masa depan.
Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq.










