
Menulis Artikel Ilmiah di Tengah Perkembangan Teknologi
Menulis artikel ilmiah atau jurnal memang merupakan tugas yang menantang. Diperlukan ketelitian dalam mengolah data serta kesabaran dalam menyusun rangkaian narasi yang sistematis dan argumentatif. Workshop “Transformasi Penulisan Ilmiah di Era Digital” bagi mahasiswa FTK hadir untuk memberikan perspektif baru, bahwa tugas yang sulit ini dapat dilakukan dengan lebih efisien melalui bantuan teknologi. Manfaat utamanya adalah membantu mahasiswa menyusun draf yang rapi dan mempercepat proses teknis penulisan. Namun, kemudahan ini memunculkan pertanyaan penting: sejauh mana peran penulis tetap terjaga di hadapan teknologi?
Jika kita merenungkan ayat dalam Surat An-Nahl: 43 yang berbunyi, “…Maka bertanyalah kepada ahl dzkr, orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” kita bisa melihat posisi AI di sana. Bertanya kepada AI ibarat mengakses gudang pengetahuan yang nyaris tak terbatas. Namun, bisakah AI menggantikan posisi ahl dzikr?. Kiranya perlu diingat bahwa ilmu bukan hanya gudang pengetahuan dan informasi. Sosok guru jelas masih sangat dibutuhkan untuk membimbing agar tidak salah arah, karena berilmu tanpa tuntunan guru bisa membuat orang tersesat dalam kebingungan digital. Itulah alasan workshop di FTK menghadirkan ahli, untuk memastikan teknologi tetap berada di jalur yang benar. Peran workshop ini menjadi sangat relevan; narasumber ahli hadir untuk memberikan arahan agar penggunaan teknologi tetap berada pada jalur yang benar. Ilmu pengetahuan bukan sekadar tumpukan informasi digital, melainkan pemahaman yang membutuhkan bimbingan guru. Tanpa bimbingan tersebut, ada risiko terjebak pada informasi yang tidak akurat atau kehilangan kendali atas kualitas karya yang dihasilkan.
Hal mendasar yang menjadi catatan adalah mengenai orisinalitas dalam sebuah tulisan. Karya yang dihasilkan sepenuhnya oleh mesin cenderung terasa kaku dan kehilangan karakter personal penulisnya. Padahal, sebuah tulisan ilmiah tetap memerlukan sentuhan pemikiran manusia untuk menyampaikan gagasan kepada pembaca. Etika akademik dalam hal ini memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada kecanggihan alat itu sendiri. Kejujuran dalam menyajikan data dan keaslian ide tetap menjadi tanggung jawab penuh seorang akademisi. Teknologi dapat digunakan untuk membantu memperbaiki struktur kalimat, namun analisis dan kesimpulan harus tetap berasal dari pemikiran penulis.
Selain itu, bagi mahasiswa di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, ada peran yang lebih luas untuk diambil di ruang digital. Workshop ini mengajak mahasiswa untuk mulai memosisikan diri sebagai konten kreator yang aktif. Menjadi konten kreator kini bukan lagi sekadar hobi, melainkan telah bertransformasi menjadi alternatif profesi yang menjanjikan bagi lulusan. Jika selama ini lulusan identik dengan peran di dalam ruang kelas, dunia digital menawarkan “ruang kelas tanpa batas”. Lulusan dapat mengemas hasil penelitian ilmiah yang berat menjadi konten edukasi, infografis, atau video singkat yang menarik.
Langkah ini tidak hanya menjadi bagian dari upaya pengembangan diri, tetapi juga menjadi sarana strategis untuk mempromosikan kampus UIN sebagai pusat Pendidikan Islam yang berkualitas. Mahasiswa dan lulusan berperan sebagai duta yang mengenalkan wajah pendidikan Islam secara profesional dan modern kepada dunia luar. Dengan begitu, teknologi berfungsi sebagai alat bantu bagi lulusan untuk menciptakan peluangnya sendiri sambil tetap menyebarkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
–










