Kolom Dekan
Meneladani Luqman, Membangun Generasi Berkarakter*

Meneladani Luqman, Membangun Generasi Berkarakter*

Mahasiswa PIAUD memikul tanggung jawab besar untuk membentuk generasi mendatang. Kuliah di program studi ini bukan sekadar perjuangan meraih gelar, melainkan belajar cara mendampingi fase tumbuh kembang anak di fase-fase awal. Karakter yang terbentuk saat ini akan menjadi fondasi bagi kehidupan mereka kelak.
Untuk menjalankan peran tersebut, mahasiswa PIAUD memerlukan landasan yang lebih dalam. Tanggung jawab besar ini menemukan konteksnya dalam koridor iman. Selain mempelajari berbagai mata kuliah dan teori mengenai pendidikan anak usia dini, mereka dituntut mampu menanamkan nilai-nilai kebaikan di setiap tahap perkembangan anak.
Dalam khazanah pendidikan Islam, figur Luqman Al-Hakim hadir sebagai teladan kearifan. Meskipun bukan seorang Nabi, namanya diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai potret ideal seorang pendidik yang menempatkan tauhid sebagai pondasi utama. Sebagaimana firman Allah SWT:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.” (QS. Luqman: 13)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter yang paling mendasar adalah mengenalkan anak pada Penciptanya. Sebelum dunia menawarkan kerumitannya, anak perlu memiliki landasan keimanan yang kokoh. Pegangan iman sejak dini inilah yang melindungi anak dari rasa asing dan kehilangan arah saat menghadapi tantangan hidup nantinya. Inilah akar kesehatan mental dan spiritual yang sebenarnya.
Selanjutnya, pendidikan tidak berhenti pada penguatan batin. Setelah akidah tertanam, bimbingan perlu diarahkan untuk memahami hubungan dengan sesama, terutama kepada orang tua. Luqman Al-Hakim dengan cermat menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah haruslah berlanjut dengan rasa hormat dan kasih sayang kepada orang tua.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَّيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Pesan tersebut membawa kita pada satu titik pemahaman bahwa mendidik anak usia dini adalah proses yang utuh. Menanamkan adab bukan sekadar menuntut perilaku sopan, melainkan cara membantu anak mengelola empati. Saat anak terbiasa menghargai orang tua, di sanalah kerendahan hati tumbuh. Inilah esensi pendidikan di level PIAUD: memadukan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan emosional. Menghormati orang tua bukan sekadar norma sosial, melainkan perintah Tuhan yang menjadi jembatan bagi keberkahan hidup anak kelak.
Tantangan pendidik masa kini memang tidak sederhana. Arus radikalisme dan sekularisme menjadi ujian nyata yang membentur nalar moderasi. Sebagai mahasiswa PIAUD di FTK UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, ada amanah besar untuk terus mengusung nilai Wasathiyah (jalan tengah). Anak-anak perlu dijaga agar tidak terjebak pada ekstremitas—baik yang kaku maupun yang bebas tanpa kendali. Konsep ini bersumber dari prinsip berikut:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ…
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan (umat pertengahan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia…” (QS. Al-Baqarah: 143)

Nilai Wasathiyah tidak hadir melalui ceramah dan serial seminar, melainkan melalui keteladanan sikap. Jika pendidik mampu menunjukkan keseimbangan—tegas dalam prinsip namun santun dalam komunikasi—anak akan belajar secara alami bahwa ada ruang terbuka bagi kebaikan tanpa harus kehilangan jati diri.

Menjalani peran ini adalah komitmen panjang untuk terus mematangkan diri. Sebelum mampu menanamkan kebaikan pada anak, pendidiklah yang harus terlebih dahulu menghidupi nilai-nilai tersebut. Tugas Prodi PIAUD bukan sebatas menyusun kurikulum atau metode pengajaran, melainkan menyiapkan “wadah” bagi generasi masa depan untuk tumbuh dengan pemahaman keislaman yang teduh, damai, dan inklusif. Amanah ini memang besar, namun kesadaran bahwa setiap upaya di dalamnya adalah bagian dari amal jariyah menjadikan perjalanan ini sangat bermakna—bukan hanya bagi anak didik, tetapi juga bagi pertumbuhan jiwa pendidiknya sendiri.
Wallahu A’lam

*Catatan saat seminar PIAUD Ternd Penelitian Anak Usia Dini, 7 Oktober 2025*