Memperingati Hari Pendidikan Nasional, Prodi BKPI Menggelar SEMBAKO #2

Pada Selasa, 7 Mei 2024 dalam nuansa Hari Pendidikan Nasional, Prodi BKPI mengadakan kegiatan SEMBAKO (Seminar Bimbingan dan Konseling) yang ke 2 secara daring dengan tema “Bimbingan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK): Menciptakan Lingkungan Yang Inklusif Dan Peduli Pada Pencapaian Dan Perkembangan ABK”. Narasumber yang didatangkan adalah Dr. Aisha Nadya, M. Pd. Dalam sambutannya, Kaprodi BKPI, Ibu Dr. Yahdinil Firda Nadhira, S. Ag., M. Si mengatakan “Dalam nuansa HARDIKNAS ini, Prodi BKPI mengangkat seminar series 2 yakni SEMBAKO #2 sebagai bentuk kepedulian dan upaya mengingatkan kembali bahwa Pendidikan itu ialah hak segala bangsa termasuk ABK. Seminar ini menjadi ajang untuk kembali memberikan semangat dan kepedulian yang tinggi bagi anak-anak hebat agar kita dapat menciptakan lingkungan yang inklusif dan peduli terhadap pencapaian dan perkembangan bagi anak anak yang berkebutuhan khusus yakinlah setiap anak itu memiliki kelebihan”. BKPI yang bervisikan menjadi Prodi yang unggul dalam bidang Bimbingan dann Konseling dalam bidang integrative counselling, seakan mengisyarakatkan bahwa konselor di sekolah harus mampu memiliki keseriusan dalam mengenali dan mengembangkan potensi siswanya termasuk siswa ABK.

Kegiatan SEMBAKO 2 dibuka oleh Wakil Dekan 3 mewakili Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yakni Bapak Dr. Ali Mukhtarom M. Si menyampaikan “Webinar ini dapat memberikan pemahaman bagi mahasiswa khususnya di kalangan mahasiswa Prodi BKPI ini, bahwa guru, terkhusus Guru BK atau Konselor harus memiliki kepedulian terhadap anak anak yang memiliki kelebihan atau ABK tersebut”. Kajian ini penting untuk di kaji sehingga semua anak adalah hebat dengan segala keadaannya dan Pendidikan harus memfasilitasi itu, tutupnya.

Narasumber, Dr. Anisha Nadya, M.Pd yang di pandu oleh Moderator Bapak Ahmad Rofi Suryahadikusumah, M. Pd, menyampaikan materinya dengan penuh semangat dan santai. Beliau menyampaikan bahwasanya “Jumlah disabilitas di Indonesia sangat banyak maka dari itu kita perlu menciptakan lingkungan yang inklusif dan peduli. Jika manusia di ibaratkan sebagai alat musik, setiap alat music tersebut memiliki cara tertentu dan khusus untuk menciptakan bunyinya. Gitar perlu di petik untu menghasilkan bunyi, Gendang harus di pukul sehingga dia akan menghasilkan bunyi, Suling di tiup untuk menghasilkan bunyi. Begitupun manusia, memiliki cara yang berbeda beda untuk mengetahui potensinya”. Disabilitas itu bukan penyakit dan tidak dapat disembuhkan, maka dari itu peran orang tua dan orang-orang di sekitarnya itu sangat lah penting, agar dia dapat mendapatkan dukungan” tuturnya. Beliau juga memberikan ilmu sesuai dengan teori dan pengalaman pribadi beliau. Terakhir berliau mengajarkan bagaimana mempraktikkan bahasa isyarat untuk memudahkan berkomunikasi dengan ABK yang ada.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*